Obat
Antihipertensi
Dosen Pembimbing : Sindu
Martha S.Farm.Apt
Oleh:
Ajeng Triastiti
Dinillah
Ely Dwi Novita
Ni Komang Triastuti
D3 Kebidanan II C
Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi
2011 – 2012
Bab I
Pendahuluan
1.1
Latar Belakang
Bagi praktisi dunia
kesehatan, pasti tidak asing lagi dengan farmakologi obat dan dosis dimana
hampir semua lembaga pendidikan membahas pelajaran ini, baik itu keperawatan,
kedokteran, kesehatan masyarakat dan farmasi. Farmakologi atau yang sering
disebut dengan ilmu khasiat obat adalah merupakan ilmu yang mempelajari obat
dalam seluruh aspeknya baik sifat kimiawi, fisikanya, kegiatan fisiologi,
resorbsi dan nasibnya dalam organisme hidup. Farmokologi klinik menyelidiki
semua interaksi antara obat dan tubuh serta penggunaannya pada pengobatan
penyakit.
Penyakit darah tinggi
atau hipertensi adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami peningkatan
tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic dan angka
diastolic pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah
baik berupa air raksa ataupun alat digital lainnya.
Bila seseorang
mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan
pengontrolan secara teratur, maka hal ini dapat membawa si penderita ke dalam
kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Hipertensi adalah peningkatan
tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik
> 90 mmHg (Kee & Hayes). Tekanan
Darah (TD) didistribusikan terus menerus, tidak ada definisi absolut untuk
hipertensi (Davey). Obat
antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah
tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.Semua obat antihipertensi bekerja
pada satu atau lebih tempat kontrol anatomis dan efek tersebut terjadi dengan
mempengaruhi mekanisme normal regulasi TD. EKG.
Jakarta 1996.
Hipertensi dalam
kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan satu dari tiga
penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia
mortalitas dan morbidotas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi.
Hal ini disebabkan selain oleh etiologi tidak jelas , jiiga oleh perawatan dalam persalinan masih dtangani oleh petugas nonmedik dan system rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua tenaga medic baik pusat maupun daerah.
Hal ini disebabkan selain oleh etiologi tidak jelas , jiiga oleh perawatan dalam persalinan masih dtangani oleh petugas nonmedik dan system rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua tenaga medic baik pusat maupun daerah.
Apapun yang seorang
wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada janinnya. Seberapa
banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung dari bagaimana obat
tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi, metabolisme, dan ekskresi
(pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat melalui saluran cerna, saluran
napas, kulit, atau melalui pembuluh darah (suntikan intravena). Kehamilan
sendiri mengganggu penyerapan obat karena lebih lamanya pengisian lambung yang
dikarenakan peningkatan hormon progesteron.
Volume distribusi
juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron mengganggu aktivitas
enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme obat. Ekskresi oleh
ginjal juga meningkat selama kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan dapat
dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan
hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua tenaga medic
baik pusat maupun daerah.
1.2
Rumusan masalah
a. Apa yang dimaksud dengan hipertensi dan hipertensi
pada kehamilan?
b. Apa diagnosis pada penderita hipertensi?
c. Apa patofisiologi dari hipertensi ?
d. Apa etiologi dari hipertensi ?
e. Bagaimana pencegahan agar tidak hipertensi ?
f. Pengobatan secara farmakologis pada
hipertensi
g. Pengobatan secara non farmakologis pada
hipertensi
h. Apa yang dimaksud hipertensi pada masa kehamilan ?
i. Apa jenis obat antihipertensi yang aman bagi Ibu
Hamil?
1.3
Tujuan
Mahasiswa Diharapkan Mampu Mengetahui Tentang :
a. Definisi dari hipertensi
b. Diagnosis pada penderita hipertensi
c. Patofisiologi dari hipertensi
d. Etiologi dari hipertensi
e. Pencegahan agar tidak hipertensi
f. Pengobatan secara farmakologis pada
hipertensi
g. Pengobatan secara non farmakologis pada
hipertensi
h. Hipertensi pada masa kehamilan
i.
Jenis obat
antihipertensi yang aman bagi Ibu Hamil
Bab II
Pembahasan
2.1 Pengertian
hipertensi
Klasifikasi
|
TDD (mmHg)
|
TDS(mmHg)
|
Normal
|
<85
|
<130
|
Normal tinggi
|
85-89
|
130-139
|
Hipertensi
|
||
Hipertensi Tingkat
1
|
90-99
|
140-159
|
Hipertensi Tingkat
2
|
100-109
|
160-179
|
Hipertensi Tingkat
3
|
110-119
|
180-209
|
Hipertensi Tingkat
4
|
>/= 120
|
>/= 210
|
Bagian
farmakologi fakultas kedokteran Universitas Indonesia
Masa kehamilan adalah
kondisi yang memerlukan perhatian khusus akan kesehatan ibu dan janin atau
bayi. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah hipertensi.Hipertensi
merupakan penyakit umum yang didefinisikan secara sederhana sebagai peningkatan
tekanan darah. Penyakit tersebut dapat menjadi penyebab tingginya angka
kesakitan dan kematian baik pada ibu dan janin/ bayi yang dilahirkan.
Wanita hamil dengan
hipertensi memiliki resiko terjadinya komplikasi lebih, seperti penyakit
pembuluh darah dan organ serta pre eklamsia dan eklamsi, sedangkan janin atau
bayi berisiko terkena komplikasi penghambatan pertumbuhan. Oleh karena itu,
perlu adanya penatalaksanaan khusus pada ibu hamil. Sebagian besar
ibu hamil tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena ibu hamil
terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik.
2.2
Diagnosis hipertensi
Secara umum seseorang
dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya
melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik adalah tekanan darah
pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung
mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan
menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong). Sebetulnya batas
antara tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi tidaklah jelas, sehingga
klasifikasi hipertensi dibuat berdasarkan tingkat tingginya tekanan darah yang
mengakibatkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Diagnosis hipertensi
tidak boleh ditegakkan oleh sekali pengukuran, pengukuran pertama harus
dikonfirmasi pada sedikitnya 2 kunjungan lagi dalam 1 minggu. Diagnosis
hipertensi ditegakkan bila dari pengukuran secara berulang ulang diperoleh
pengukuran rata rata TDD >/=90mmHg dan/atau TDS >/= 140mmHg (Farmakologi dan Terapi.1999)
Pengukuran Tekanan
darah harus dilakukan saat pasien dalam keadaan tenang dan santai. Mereka tidak
boleh merokok ataupun minum kopi 30 menit sebelumnya. (Farmakologi dan Terapi.1999)
Sejalan dengan
bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah;
tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik
terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan
atau bahkan menurun drastis.
Tekanan darah dalam
kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki
tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga
dipengaruhi oleh aktivitas fisik, di mana akan lebih tinggi pada saat melakukan
aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam 1 hari juga
berbeda; paling tinggi pada waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur
malam hari
2.3 Patofisiologi
hipertensi
Perjalanan penyakit
hipertensi sangat perlahan. Penderita mungkin tidak menunjukkan gejala
selama bertahun-tahun. Masa laten ini menyelubungi perjalanan penyakit
sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna. Bila ada gejala, sifatnya
nonspesifik, misalnya sakit kepala atau pusing. Kalau hipertensi tetap
tidak diketahui dan tidak diobati, maka akan mengakibatkan kematian karena
payah jantung, infark miokard, stroke atau payah ginjal.
Mekanisme bagaimana
hipertensi dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kematian terkait langsung dengan
pengaruh pada jantung dan pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah
sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri,
karena beban kerja jantung bertambah. Sebagai akibatnya terjadi hipertropi
ventrikel untuk meningkatkan kontraksi. Akan tetapi kemampuan ventrikel
untuk mempertahankan curah jantung dengan hipertropi kompensasi akhirnya
terlampaui, dan terjadi dilatasi dan payah jantung. Jantung semakin
terancam oleh semakin parahnya aterosklerosis koroner. bila proses
aterosklerosis berlanjut maka suplai oksigen miokar berkurang. Kebutuhan
miokardium akan meningkat akibat hipertropi ventrikel dan peningkatan beban
kerja jantung, akhirnya menyebabkan angina atau infark miokardium. Sekitar
separuh kematian karena hipertensi adalah akibat infark miokard atau payah
jantung.
2.4 Etiologi Hipertensi
1. Hipertensi
Esensial / Primer
Hipertensi Esensial
adalah hipertensi yang tidak jelas etiologinya. Lebih dari 90% kasus hipertensi merupakan kelompok ini.
Kelainan hemodinamik utama pada
hipertensi esensial adalah peningkatan resistensi perifer. Penyebab hipertensi
esensial adalah multifaktor dari genetik dan lingkungan. Faktor predisposisi
genetik ini dapat berupa sensitivitas terhadap natrium, kepekaan terhadap
stres, peningkatan reaktivitas vaskular, dan resistensi insulin. Selain itu
untuk lingkungan, faktor yang mempengaruhi adalah garam berlebihan, stress
psikis, dan obesitas. (Farmakologi dan
Terapi.1999)
2. Hipertensi
Sekunder
Prevalensi hipertensi sekunder ini hanya bekrkisar
5-8% dari seluruh penderita hipertensi. Hipertensi sekunder dapat disebabkan
oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, obat obatan dan lain lain Kelainan
pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit
adrenal. Sekitar 10%. (Farmakologi
dan Terapi.1999)
2.5 Pencegahan hipertensi
Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan
yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Hindari kebiasaan lainnya seperti
merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko
Hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti.
2.6 Pengobatan
secara farmakologis pada hipertensi
1
Diuretik
Khasiat antihipertensi diuretik berawal dari efeknya meningkatkan
eksresi natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan
ekstrasel. Tekanan darah turun karena berkurangnya curah jantung, sedangkan
resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi.
·
Diuretik
tiazid
Berbagai tiazid seperti hidroklorotiazid, bendroflumetiazid,
klortalidon, indapamid. Dalam dosis ekuipoten, obat ini menimbulkan obat
antihipertensi dan toksisitas yang tidak berbeda satu sama lain. Obat tiazid
berlangsung lebih lama dan terjadi pada dosis yang jauh lebih rendah daripada
efek diuretiknya
o HCT
(Hydrochlorothiaside)
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) penyimpanan natrium
sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun.
Efek samping : gangguan
metabolik,hiperglikemi,glikosuria, ketidakseimbangan elektrolit,pusing.
Indikasi : digunakan untuk terapi oedema yang berkaitan
dengan gagal jantung, gangguan hati, gagal ginjal , hipertensi.
Kontraindikasi : anuria, dekompensasi ginjal, penyakit hati
parah, penyakit addison
Dosis : hipertensi awal 12,5mg; dapat ditingkatkan jika perlu
menjadi sehari 25-25mg. Maks dalam sehari 100mg.
(Info Obat Indonesia, 439)
·
Diuretik
kuat dan diuretik hemat kalium
Diuretik
kuat misalnya furosemid, merupakan AH yang lebih efektif dibandingkan tiazid
untuk hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan gagal jantung. Mula kerjanya
lebih cepat dan efek diuretik lebih kuat daripada tiazid.
o
Furosemide
Sediaan obat : Tablet, capsul, injeksi.
Mekanisme kerja : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen
tubuli ke dalam intersitium pada ascending limb of henle.
Indikasi : Edema gagal jantung, penyakit hati dan ginjal
tidak responsif,terapi oliguria pada dosis tinggi,hipertensi.
Kontraindikasi : anuria, gangguan fungsi ginjal akut, hipotensi,
penyakit addison, wanita hamil dan
menyusui
Efek samping : pusing, lesu, kaku otot, hipotensi, mual,
diare,mulut kering
Dosis : awalan untuk gagal jantung kongestif, sirosis hati,
penyakit ginjal dan oedema akut 20-80mg , kemudian ditingkatkan sebesar 20-80
setiap 6-8jam hingga terdapat respon yang diinginkan. Untuk hipertensi
ringan-sedang diawali dengan 2x/hari 40mg, lalu penyesuaian. Untuk injeksi
awalan 20-40mg inj i.v ataupun i.m, jika tidak ada respon bisa ditambah
dosisnya tiap 2 jam bertahap. (Info
Obat Indonesia,440)
o
Spironolakton
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : diuretik hemat kalium dengan aktifitas diuretik
reatif lemah
Indikasi : hipertensi.
Kontraindikasi : anuria, gangguan fungsi ginjal ,hiperkalemia,
penyakit addison, wanita hamil.
Efek samping : pusing, kram, diare, mengantuk, ruam kulit,
menstruasi tidak teratur.
Dosis : awalan untuk gagal jantung kongestif, 20-80mg ,
kemudian ditingkatkan sebesar 50-100 setiap 6-8jam sebagai dosis tunggal,
lazimnya 25-200mg/hari. Anak 3x/hari
1mg/kg BB. Oedema karena sirosis hati, dewasa 300-600mg, oedema sehubungan
dengan nefrotik 100-200mg/hari. Oedema pada anak 3,3mg/kg BB. (Info Obat Indonesia,442)
2
Penghambat adrenergik
·
Penghambat adrenoseptor β(β-bloker)
Mekanisme
kerjanya , yakni :
a.
Pengurangan
denyut jantung dan kontraktilitas miokard menyebabkan curah jantung berkurang
b.
Hambatan
pelepasan NE melalui hambatan reseptor β2
prasinaps
c.
Hambatan
sekresi renin melalui hambatan reseptor
β1 di ginjal
d.
Efek
sentral
Penurunan tekanan darah oleh β-bloker yang
diberikan peroral berlangsung lambat. Efek mulai terlihat setelah 1
hari-1minggu setelah terapi dimulai. β-bloker digunakan untuk penderita
hipertensi ringan hingga sedang. Secara umum β-bloker dapat memberikan efek
samping pada penggunanya, yaitu rasa lelah, insomnia, eksaserbasi gagal
jantung, gangguan perifer, menurunkan kadar kolesterol HDL
o
Atenolol (Beta
bloker)
Sediaan obat : Tablet,injeksi
Mekanisme kerja : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi
perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin
akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal.
Indikasi : hipertensi ringan - sedang, aritmia
Kontraindikasi : gangguan konduksi AV, gagal jantung nyata,
bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, hipotensi.
Efek samping : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu,
gangguan tidur, kulit kemerahan, impotensi,hipoglikemi,pusing.
Dosis : hipertensi, awal sehari 50mg, dapat dikombinasi diuretik,
jika tidak ada pengaruh untuk 1-2minggu setelah terapi dosis bisa ditambah
100mg/hari. Injeksi, awal, 2,5mg i.m selama periode 2,5 menit , dapat diulang
dengan interval waktu 5 menit, maksimal 10mg. Jika melalui infus 0,15mg/kg BB
selama periode 20 menit. (Info
Obat Indonesia,426)
·
Penghambat adrenoseptor α (α-bloker)
Hanya
α-bloker yang selektif memblok adrenoseptor α1, yang berguna untuk
antihipertensi.
o
Catapres
Sediaan obat: Tablet, injeksi.
Mekanisme kerja: menghambat perangsangan saraf adrenergic di SSP.
Indikasi: hipertensi, migren
Kontraindikasi: wanita hamil, penderita yang tidak patuh.
Efek samping: mulut kering, pusing mual, muntah, konstipasi.
Dosis: 150 - 300 mg / hr. (Info Obat Indonesia,434)
3
Vasolidator
Penghambat
angiotensin converting enzyme (ACE), Menekan sintesis angiotensin II, suatu
vasokonstriktor poten.
·
Hidralazin
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga
resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut jantung.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi : porfiria, takikardi parah, gagal jantung.
Efek samping : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran
cerna, muka merah, hipotensi,
Dosis : 50 mg / hr, dibagi 2 - 3 dosis.
4
Penghambat enzim konversi
·
Kaptopril
Sediaan obat: Tablet
Mekanisme kerja: menghambat
enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat
menurunnya pelepasan renin dan aldosterone.
Indikasi: hipertensi,
gagal jantung,
Kontraindikasi: hipersensivitas,
hati - hati pada penderita dengan riwayat angioedema dan wanita menyusui,
wanita hamil
Efek samping: batuk,
kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, pandangan kabur, lemah, demam
Dosis: hipertensi
dan gagal jantung , 3x/hari 12,5mg atau 2x/hari 25mg. Sesuai kebutuhan dapat
ditingkatkan sesuai kebutuhan menjadi 2x/hari 50mg. (Info Obat Indonesia,419)
5
Antagonis kalsium
·
Diltiazem (kalsium
antagonis)
Nama paten: Farmabes,
Herbeser, Diltikor.
Sediaan obat: Tablet,
kapsul
Mekanisme kerja: menghambat
asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel calcium.
Indikasi: hipertensi,
angina pectoris.
Kontraindikasi: hipotensi,
wanita hamil dan menyusui.
Efek samping:pusing,
lelah, edema kaki, gangguan saluran cerna, insomnia.
Dosis:
3x/hari 60mg, dosis dapat ditingkatkan menjadi 360mg/hari dibagi 3 dosis. (Info Obat Indonesia,417)
2.7 Pengobatan
secara non farmakologis pada hipertensi
Pengobatan non
farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan
farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda.
Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non
farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan
yang lebih baik.
Pengobatan non
farmakologis diantaranya adalah :
a. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
b. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
c. Ciptakan keadaan rileks
d. Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau
hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan
darah.
e. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan
cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu.
f. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol
2.8 Hipertensi
pada masa kehamilan
Penyebab
hipertensi dalam kehamilan hingga kini belumdiketahui dengan jelas. Banyak
teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan tapi
tidak satupun teori yang dianggap mutlak dikatakan benar seperti teori genetik
dan adptasi kardiovaskular, teori defisiensi gizi dan lain-lain.
Penggunaan
obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat
hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus
menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga
merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah
tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung
alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya
tekanan darah tinggi.
Terdiri
dari :
A.
Hipertensi
esensial kronik, hipertensi yang ada sejak sebelum hamil atau sudah
terdiagnosis sebelum usia kehamilan 20minggu.
B.
Preeklamsi-eklamsia,
suatu kondisi khas kehamilan setelah usia kehamilan 20minggu. Kondisi ini
ditandai dengan perfusi yang buruk dari beberapa organ yang menyebabkan
peningkatan tekanan darah disertai dengan proteinuria, oedema, dan gangguan
koagulasi hati
C.
Hipertensi
kronik dengan preeklamsia, yakni kondisi dimana ibu hamil menderita hipertensi
sejak awal kehamilan hingga usia kehamilan tua
D.
Hipertensi
selintas, yakni hipertensi yang dialami oleh ibu hamil namun hanya diderita
saat hamil saja, setelah hamil tekanan darahnya akan kembali asal.
2.9 Jenis
obat anti hipertensi yang aman untuk ibu hamil
Banyak
sekali tipe obat berbeda yang dapat digunakan untuk pengobatan tekanan darah
tinggi (hipertensi) yang disebut dengan antihypertensive medicines (obat-obat
anti hipertensi). Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi tekanan darah dan
mengembalikannya pada ukuran normal dengan obat-obat yang mudah di konsumsi,
tersedia, jumlahnya sedikit mungkin, jika memungkinkan tanpa ada efek samping.
Tujuan pengobatan tersebut hampir selalu tercapai pada pengobatan hipertensi.
Jika tekanan darah tinggi hanya bisa di kendalikan dengan obat-obatan medis,
maka perlu mengkonsumsi obat-obatan itu untuk sisa hidup.
Apapun
yang seorang wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada
janinnya. Seberapa banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung
dari bagaimana obat tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi,
metabolisme, dan ekskresi (pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat
melalui saluran cerna, saluran napas, kulit, atau melalui pembuluh darah
(suntikan intravena). Kehamilan sendiri mengganggu penyerapan obat karena lebih
lamanya pengisian lambung yang dikarenakan peningkatan hormon progesteron.
Volume distribusi juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron
mengganggu aktivitas enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme
obat. Ekskresi oleh ginjal juga meningkat selama kehamilan.
Untuk
mengetahui bagaimana mekanisme pengobatan hipertensi kehamilan maka perlu
diketahui mekanisme pengobatan hipertensi secara umum, sebab pengobatan
hipertensi secara umum tidak jauh beda dengan pengobata hipertensi pada
kehamilan, tapi pada sbsorpsi obat dan dampak pengobatan dan hipertensi itu
sendiri pada janinnya.
·
Methildopa
Sediaan : tablet
Mekanisme
kerja : Methildopa mengalami dekarboksilasasi
pada SSP menjadi α-Methilnoradrenaline, kemudian α-Methilnoradrenaline
menstimulasi α2-adrenoseptor yang menyebabkan pengurangan
denyut simpatetik dan penurunan tekanan
darah
Indikasi : Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak diperlukan efek segera.
Kontraindikasi : Depresi, penyakit hati aktif, serosis hati, kerusakan pembuluh darah otak
Efek samping : mulut kering, depresi, pusing, peningkatan berat badan
Dosis : oral 125- 250mg /hari (Info Obat Indonesia,434)
Indikasi : Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak diperlukan efek segera.
Kontraindikasi : Depresi, penyakit hati aktif, serosis hati, kerusakan pembuluh darah otak
Efek samping : mulut kering, depresi, pusing, peningkatan berat badan
Dosis : oral 125- 250mg /hari (Info Obat Indonesia,434)
·
Hidralazin
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : merelaksasi otot polos arteriol sehingga
resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut jantung.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi : porfiria, takikardi parah, gagal jantung.
Efek samping : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran
cerna, muka merah, hipotensi,
Dosis : 50 mg / hr, dibagi 2 - 3 dosis.
o HCT (Hydrochlorothiaside)
Sediaan obat : Tablet
Mekanisme kerja : mendeplesi (mengosongkan) penyimpanan natrium
sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun.
Efek samping : gangguan
metabolik,hiperglikemi,glikosuria, ketidakseimbangan elektrolit,pusing.
Indikasi : digunakan untuk terapi oedema yang berkaitan
dengan gagal jantung, gangguan hati, gagal ginjal , hipertensi.
Kontraindikasi : anuria, dekompensasi ginjal, penyakit hati
parah, penyakit addison
Dosis : hipertensi awal 12,5mg; dapat ditingkatkan jika perlu
menjadi sehari 25-25mg. Maks dalam sehari 100mg.
(Info Obat Indonesia, 439)
Bab III
Penutup
3.1
Kesimpulan
Hipertensi adalah
peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan
diastolik > 90 mmHg. Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk
menurunkan tekanan darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.
Pengobatan hipertensi
secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1. Pengobatan non
obat (non farmakologis)
2. Pengobatan
dengan obat-obatan (farmakologis)
Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan
yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Hindari kebiasaan lainnya seperti
merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko
Hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti.
3.2
Saran
Saran penulis
agar makalah ini digunakan sebagai
sarana untuk mendapatkan ilmu, terutama tentang obat antihipertensi.
Daftar Pustaka
Info Obat Indonesia. 2010. Edisi kedua. PT Eranti
Agratama:Jakarta
Informasi Spesialite Obat Indonesia. 2007. Edisi 42.
Edpigi:Surabaya
Farmakologi dan Terapi. 1999. Edisi ketujuh.Gaya Baru:Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar