Gadis biasa yang berihtiar dan bertawakkal ngejalanin skenario Allah, entah akan menjadi apa dan seperti apa.
Karena apapun itu, pasti adalah yang terbaik. Dan tulisan dibawah ini hanya sampah pikiran saja. Ga lebih

Rabu, 27 Februari 2013

Anti Hipertensi


Obat Antihipertensi



Dosen Pembimbing : Sindu Martha S.Farm.Apt

Oleh:
Ajeng Triastiti Dinillah
Ely Dwi Novita
Ni Komang Triastuti
D3 Kebidanan II C

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Banyuwangi
2011 – 2012


Bab I
Pendahuluan

1.1              Latar Belakang
Bagi praktisi dunia kesehatan, pasti tidak asing lagi dengan farmakologi obat dan dosis dimana hampir semua lembaga pendidikan membahas pelajaran ini, baik itu keperawatan, kedokteran, kesehatan masyarakat dan farmasi. Farmakologi atau yang sering disebut dengan ilmu khasiat obat adalah merupakan ilmu yang mempelajari obat dalam seluruh aspeknya baik sifat kimiawi, fisikanya, kegiatan fisiologi, resorbsi dan nasibnya dalam organisme hidup. Farmokologi klinik menyelidiki semua interaksi antara obat dan tubuh serta penggunaannya pada pengobatan penyakit.
Penyakit darah tinggi atau hipertensi adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal yang ditunjukkan oleh angka systolic dan angka diastolic pada pemeriksaan tensi darah menggunakan alat pengukur tekanan darah baik berupa air raksa ataupun alat digital lainnya.
Bila seseorang mengalami tekanan darah tinggi dan tidak mendapatkan pengobatan dan pengontrolan secara teratur, maka hal ini dapat membawa si penderita ke dalam kasus serius bahkan bisa menyebabkan kematian. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg (Kee & Hayes). Tekanan Darah (TD) didistribusikan terus menerus, tidak ada definisi absolut untuk hipertensi (Davey). Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.Semua obat antihipertensi bekerja pada satu atau lebih tempat kontrol anatomis dan efek tersebut terjadi dengan mempengaruhi mekanisme normal regulasi TD. EKG. Jakarta 1996.
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Di Indonesia mortalitas dan morbidotas hipertensi dalam kehamilan juga masih cukup tinggi.
Hal ini disebabkan selain oleh etiologi tidak jelas , jiiga oleh perawatan dalam persalinan masih dtangani oleh petugas nonmedik dan system rujukan yang belum sempurna. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua tenaga medic baik pusat maupun daerah.
Apapun yang seorang wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada janinnya. Seberapa banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung dari bagaimana obat tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi, metabolisme, dan ekskresi (pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat melalui saluran cerna, saluran napas, kulit, atau melalui pembuluh darah (suntikan intravena). Kehamilan sendiri mengganggu penyerapan obat karena lebih lamanya pengisian lambung yang dikarenakan peningkatan hormon progesteron.
Volume distribusi juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron mengganggu aktivitas enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme obat. Ekskresi oleh ginjal juga meningkat selama kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan dapat dialami oleh setiap lapisan ibu hamil sehingga pengetahuan tentang pengelolaan hipertensi dalam kehamilan harus banar-benar dipahami oleh semua tenaga medic baik pusat maupun daerah.


1.2              Rumusan masalah
a.    Apa yang dimaksud dengan hipertensi dan hipertensi pada kehamilan?
b.    Apa diagnosis pada penderita hipertensi?
c.    Apa patofisiologi dari hipertensi ?
d.   Apa etiologi dari hipertensi ?
e.    Bagaimana pencegahan agar tidak hipertensi ?
f.     Pengobatan secara farmakologis pada hipertensi
g.    Pengobatan secara non farmakologis pada hipertensi
h.    Apa yang dimaksud hipertensi pada masa kehamilan ?
i.      Apa jenis obat antihipertensi yang aman bagi Ibu Hamil?

1.3              Tujuan
Mahasiswa Diharapkan Mampu Mengetahui Tentang :
a.       Definisi dari hipertensi
b.      Diagnosis pada penderita hipertensi
c.       Patofisiologi dari hipertensi
d.      Etiologi dari hipertensi
e.       Pencegahan agar tidak hipertensi
f.       Pengobatan secara farmakologis pada hipertensi
g.      Pengobatan secara non farmakologis pada hipertensi
h.      Hipertensi pada masa kehamilan
i.        Jenis obat antihipertensi yang aman bagi Ibu Hamil



Bab II
Pembahasan
2.1    Pengertian hipertensi
Klasifikasi
TDD (mmHg)
TDS(mmHg)
Normal
<85
<130
Normal tinggi
85-89
130-139
Hipertensi
Hipertensi Tingkat 1
90-99
140-159
Hipertensi Tingkat 2
100-109
160-179
Hipertensi Tingkat 3
110-119
180-209
Hipertensi Tingkat 4
>/= 120
>/= 210
Bagian farmakologi fakultas kedokteran Universitas Indonesia

Masa kehamilan adalah kondisi yang memerlukan perhatian khusus akan kesehatan ibu dan janin atau bayi. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah hipertensi.Hipertensi merupakan penyakit umum yang didefinisikan secara sederhana sebagai peningkatan tekanan darah. Penyakit tersebut dapat menjadi penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian baik pada ibu dan janin/ bayi yang dilahirkan.
Wanita hamil dengan hipertensi memiliki resiko terjadinya komplikasi lebih, seperti penyakit pembuluh darah dan organ serta pre eklamsia dan eklamsi, sedangkan janin atau bayi berisiko terkena komplikasi penghambatan pertumbuhan. Oleh karena itu, perlu adanya penatalaksanaan khusus pada ibu hamil. Sebagian besar ibu hamil tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi karena ibu hamil terlihat sehat dan tidak menunjukkan gejala yang spesifik.
2.2         Diagnosis hipertensi
Secara umum seseorang dikatakan menderita hipertensi jika tekanan darah sistolik/diastoliknya melebihi 140/90 mmHg (normalnya 120/80 mmHg). Sistolik adalah tekanan darah pada saat jantung memompa darah ke dalam pembuluh nadi (saat jantung mengkerut). Diastolik adalah tekanan darah pada saat jantung mengembang dan menyedot darah kembali (pembuluh nadi mengempis kosong). Sebetulnya batas antara tekanan darah normal dan tekanan darah tinggi tidaklah jelas, sehingga klasifikasi hipertensi dibuat berdasarkan tingkat tingginya tekanan darah yang mengakibatkan peningkatan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Diagnosis hipertensi tidak boleh ditegakkan oleh sekali pengukuran, pengukuran pertama harus dikonfirmasi pada sedikitnya 2 kunjungan lagi dalam 1 minggu. Diagnosis hipertensi ditegakkan bila dari pengukuran secara berulang ulang diperoleh pengukuran rata rata TDD >/=90mmHg dan/atau TDS >/= 140mmHg (Farmakologi dan Terapi.1999)
Pengukuran Tekanan darah harus dilakukan saat pasien dalam keadaan tenang dan santai. Mereka tidak boleh merokok ataupun minum kopi 30 menit sebelumnya. (Farmakologi dan Terapi.1999)
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, di mana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam 1 hari juga berbeda; paling tinggi pada waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari
2.3    Patofisiologi hipertensi
Perjalanan penyakit hipertensi sangat perlahan. Penderita mungkin tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Masa laten ini menyelubungi perjalanan penyakit sampai terjadi kerusakan organ yang bermakna. Bila ada gejala, sifatnya nonspesifik, misalnya sakit kepala atau pusing. Kalau hipertensi tetap tidak diketahui dan tidak diobati, maka akan mengakibatkan kematian karena payah jantung, infark miokard, stroke atau payah ginjal. 
Mekanisme bagaimana hipertensi dapat mengakibatkan kelumpuhan atau kematian terkait langsung dengan pengaruh pada jantung dan pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap pemompaan darah dari ventrikel kiri, karena beban kerja jantung bertambah. Sebagai akibatnya terjadi hipertropi ventrikel untuk meningkatkan kontraksi. Akan tetapi kemampuan ventrikel untuk mempertahankan curah jantung dengan hipertropi kompensasi akhirnya terlampaui, dan terjadi dilatasi dan payah jantung. Jantung semakin terancam oleh semakin parahnya aterosklerosis koroner. bila proses aterosklerosis berlanjut maka suplai oksigen miokar berkurang. Kebutuhan miokardium akan meningkat akibat hipertropi ventrikel dan peningkatan beban kerja jantung, akhirnya menyebabkan angina atau infark miokardium. Sekitar separuh kematian karena hipertensi adalah akibat infark miokard atau payah jantung.
2.4    Etiologi Hipertensi
1.      Hipertensi Esensial / Primer
Hipertensi Esensial adalah hipertensi yang tidak jelas etiologinya. Lebih dari 90%  kasus hipertensi merupakan kelompok ini. Kelainan hemodinamik  utama pada hipertensi esensial adalah peningkatan resistensi perifer. Penyebab hipertensi esensial adalah multifaktor dari genetik dan lingkungan. Faktor predisposisi genetik ini dapat berupa sensitivitas terhadap natrium, kepekaan terhadap stres, peningkatan reaktivitas vaskular, dan resistensi insulin. Selain itu untuk lingkungan, faktor yang mempengaruhi adalah garam berlebihan, stress psikis, dan obesitas. (Farmakologi dan Terapi.1999)
2.      Hipertensi Sekunder
Prevalensi hipertensi sekunder ini hanya bekrkisar 5-8% dari seluruh penderita hipertensi. Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, obat obatan dan lain lain Kelainan pembuluh darah ginjal, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit adrenal. Sekitar 10%. (Farmakologi dan Terapi.1999)

2.5    Pencegahan hipertensi
Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Hindari kebiasaan lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko Hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti.

2.6    Pengobatan secara farmakologis pada hipertensi
1        Diuretik
Khasiat antihipertensi diuretik berawal dari efeknya meningkatkan eksresi natrium, klorida, dan air, sehingga mengurangi volume plasma dan cairan ekstrasel. Tekanan darah turun karena berkurangnya curah jantung, sedangkan resistensi perifer tidak berubah pada awal terapi.
·         Diuretik tiazid
Berbagai tiazid seperti hidroklorotiazid, bendroflumetiazid, klortalidon, indapamid. Dalam dosis ekuipoten, obat ini menimbulkan obat antihipertensi dan toksisitas yang tidak berbeda satu sama lain. Obat tiazid berlangsung lebih lama dan terjadi pada dosis yang jauh lebih rendah daripada efek diuretiknya
o   HCT (Hydrochlorothiaside)
Sediaan obat            : Tablet
Mekanisme kerja     : mendeplesi (mengosongkan) penyimpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun.
Efek samping           : gangguan metabolik,hiperglikemi,glikosuria, ketidakseimbangan elektrolit,pusing.
Indikasi                    : digunakan untuk terapi oedema yang berkaitan dengan gagal jantung, gangguan hati, gagal ginjal , hipertensi.
Kontraindikasi        : anuria, dekompensasi ginjal, penyakit hati parah, penyakit addison
Dosis                         : hipertensi awal 12,5mg; dapat ditingkatkan jika perlu menjadi sehari 25-25mg. Maks dalam sehari 100mg.
(Info Obat Indonesia, 439)

·         Diuretik kuat dan diuretik hemat kalium
Diuretik kuat misalnya furosemid, merupakan AH yang lebih efektif dibandingkan tiazid untuk hipertensi dengan gangguan fungsi ginjal dan gagal jantung. Mula kerjanya lebih cepat dan efek diuretik lebih kuat daripada tiazid.
o   Furosemide
Sediaan obat            : Tablet, capsul, injeksi.
Mekanisme kerja     : mengurangi reabsorbsi aktif NaCl dalam lumen tubuli ke dalam intersitium pada ascending limb of henle.
Indikasi                    : Edema gagal jantung, penyakit hati dan ginjal tidak responsif,terapi oliguria pada dosis tinggi,hipertensi.
Kontraindikasi        : anuria, gangguan fungsi ginjal akut, hipotensi, penyakit addison,  wanita hamil dan menyusui
Efek samping           : pusing, lesu, kaku otot, hipotensi, mual, diare,mulut kering
Dosis                         : awalan untuk gagal jantung kongestif, sirosis hati, penyakit ginjal dan oedema akut 20-80mg , kemudian ditingkatkan sebesar 20-80 setiap 6-8jam hingga terdapat respon yang diinginkan. Untuk hipertensi ringan-sedang diawali dengan 2x/hari 40mg, lalu penyesuaian. Untuk injeksi awalan 20-40mg inj i.v ataupun i.m, jika tidak ada respon bisa ditambah dosisnya tiap 2 jam bertahap. (Info Obat Indonesia,440)
o   Spironolakton
Sediaan obat            : Tablet
Mekanisme kerja     : diuretik hemat kalium dengan aktifitas diuretik reatif lemah
Indikasi                    :  hipertensi.
Kontraindikasi        : anuria, gangguan fungsi ginjal ,hiperkalemia, penyakit addison, wanita hamil.
Efek samping           : pusing, kram, diare, mengantuk, ruam kulit, menstruasi tidak teratur.
Dosis                         : awalan untuk gagal jantung kongestif, 20-80mg , kemudian ditingkatkan sebesar 50-100 setiap 6-8jam sebagai dosis tunggal, lazimnya 25-200mg/hari.  Anak 3x/hari 1mg/kg BB. Oedema karena sirosis hati, dewasa 300-600mg, oedema sehubungan dengan nefrotik 100-200mg/hari. Oedema pada anak 3,3mg/kg BB. (Info Obat Indonesia,442)

2        Penghambat adrenergik
·         Penghambat adrenoseptor  β(β-bloker)
Mekanisme kerjanya , yakni :
a.       Pengurangan denyut jantung dan kontraktilitas miokard menyebabkan curah jantung berkurang
b.      Hambatan pelepasan NE melalui hambatan reseptor β2  prasinaps
c.       Hambatan sekresi renin melalui hambatan reseptor  β1 di ginjal
d.      Efek sentral
Penurunan tekanan darah oleh β-bloker yang diberikan peroral berlangsung lambat. Efek mulai terlihat setelah 1 hari-1minggu setelah terapi dimulai. β-bloker digunakan untuk penderita hipertensi ringan hingga sedang. Secara umum β-bloker dapat memberikan efek samping pada penggunanya, yaitu rasa lelah, insomnia, eksaserbasi gagal jantung, gangguan perifer, menurunkan kadar kolesterol HDL
o   Atenolol (Beta bloker)
Sediaan obat            : Tablet,injeksi
Mekanisme kerja     : pengurahan curah jantung disertai vasodilatasi perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal.
Indikasi                    : hipertensi ringan - sedang, aritmia
Kontraindikasi        : gangguan konduksi AV, gagal jantung nyata, bradikardia, syok kardiogenik, anuria, asma, hipotensi.
Efek samping           : nyeri otot, tangan kaki rasa dingin, lesu, gangguan tidur, kulit kemerahan, impotensi,hipoglikemi,pusing.
Dosis                         : hipertensi, awal sehari 50mg, dapat dikombinasi diuretik, jika tidak ada pengaruh untuk 1-2minggu setelah terapi dosis bisa ditambah 100mg/hari. Injeksi, awal, 2,5mg i.m selama periode 2,5 menit , dapat diulang dengan interval waktu 5 menit, maksimal 10mg. Jika melalui infus 0,15mg/kg BB selama periode 20 menit. (Info Obat Indonesia,426)

·         Penghambat adrenoseptor  α (α-bloker)
Hanya α-bloker yang selektif memblok adrenoseptor α1, yang berguna untuk antihipertensi.
o   Catapres
Sediaan obat: Tablet, injeksi.
Mekanisme kerja: menghambat perangsangan saraf adrenergic di SSP.
Indikasi: hipertensi, migren
Kontraindikasi: wanita hamil, penderita yang tidak patuh.
Efek samping: mulut kering, pusing mual, muntah, konstipasi.
Dosis: 150 - 300 mg / hr. (Info Obat Indonesia,434)
3        Vasolidator
Penghambat angiotensin converting enzyme (ACE), Menekan sintesis angiotensin II, suatu vasokonstriktor poten.
·          Hidralazin
Sediaan obat                   : Tablet
Mekanisme kerja            : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut jantung.
Indikasi               : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi   : porfiria, takikardi parah, gagal jantung.
Efek samping                  : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, hipotensi,
Dosis                                : 50 mg / hr, dibagi 2 - 3 dosis.
4        Penghambat enzim konversi
·      Kaptopril
Sediaan obat: Tablet
Mekanisme kerja: menghambat enzim konversi angiotensin sehingga menurunkan angiotensin II yang berakibat menurunnya pelepasan renin dan aldosterone.
Indikasi: hipertensi, gagal jantung,
Kontraindikasi: hipersensivitas, hati - hati pada penderita dengan riwayat angioedema dan wanita menyusui, wanita hamil
Efek samping: batuk, kulit kemerahan, konstipasi, hipotensi, pandangan kabur, lemah, demam
Dosis: hipertensi dan gagal jantung , 3x/hari 12,5mg atau 2x/hari 25mg. Sesuai kebutuhan dapat ditingkatkan sesuai kebutuhan menjadi 2x/hari 50mg. (Info Obat Indonesia,419)
5        Antagonis kalsium
·      Diltiazem (kalsium antagonis)
Nama paten: Farmabes, Herbeser, Diltikor.
Sediaan obat: Tablet, kapsul
Mekanisme kerja: menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui slow cannel calcium.
Indikasi: hipertensi, angina pectoris.
Kontraindikasi: hipotensi, wanita hamil dan menyusui.
Efek samping:pusing, lelah, edema kaki, gangguan saluran cerna, insomnia.
Dosis: 3x/hari 60mg, dosis dapat ditingkatkan menjadi 360mg/hari dibagi 3 dosis. (Info Obat Indonesia,417)
2.7    Pengobatan secara non farmakologis pada hipertensi
Pengobatan non farmakologis kadang-kadang dapat mengontrol tekanan darah sehingga pengobatan farmakologis menjadi tidak diperlukan atau sekurang-kurangnya ditunda. Sedangkan pada keadaan dimana obat anti hipertensi diperlukan, pengobatan non farmakologis dapat dipakai sebagai pelengkap untuk mendapatkan efek pengobatan yang lebih baik.
Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah :
a.       Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
b.      Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh.
c.       Ciptakan keadaan rileks
d.      Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah.
e.       Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu.
f.       Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol

2.8    Hipertensi pada masa kehamilan
Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belumdiketahui dengan jelas. Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan tapi tidak satupun teori yang dianggap mutlak dikatakan benar seperti teori genetik dan adptasi kardiovaskular, teori defisiensi gizi dan lain-lain.
Penggunaan obat-obatan seperti golongan kortikosteroid (cortison) dan beberapa obat hormon, termasuk beberapa obat antiradang (anti-inflammasi) secara terus menerus (sering) dapat meningkatkan tekanan darah seseorang. Merokok juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya peningkatan tekanan darah tinggi dikarenakan tembakau yang berisi nikotin. Minuman yang mengandung alkohol juga termasuk salah satu faktor yang dapat menimbulkan terjadinya tekanan darah tinggi.
Terdiri dari :
A.    Hipertensi esensial kronik, hipertensi yang ada sejak sebelum hamil atau sudah terdiagnosis sebelum usia kehamilan 20minggu.
B.     Preeklamsi-eklamsia, suatu kondisi khas kehamilan setelah usia kehamilan 20minggu. Kondisi ini ditandai dengan perfusi yang buruk dari beberapa organ yang menyebabkan peningkatan tekanan darah disertai dengan proteinuria, oedema, dan gangguan koagulasi hati
C.     Hipertensi kronik dengan preeklamsia, yakni kondisi dimana ibu hamil menderita hipertensi sejak awal kehamilan hingga usia kehamilan tua
D.    Hipertensi selintas, yakni hipertensi yang dialami oleh ibu hamil namun hanya diderita saat hamil saja, setelah hamil tekanan darahnya akan kembali asal.
2.9    Jenis obat anti hipertensi yang aman untuk ibu hamil
Banyak sekali tipe obat berbeda yang dapat digunakan untuk pengobatan tekanan darah tinggi (hipertensi) yang disebut dengan antihypertensive medicines (obat-obat anti hipertensi). Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi tekanan darah dan mengembalikannya pada ukuran normal dengan obat-obat yang mudah di konsumsi, tersedia, jumlahnya sedikit mungkin, jika memungkinkan tanpa ada efek samping. Tujuan pengobatan tersebut hampir selalu tercapai pada pengobatan hipertensi. Jika tekanan darah tinggi hanya bisa di kendalikan dengan obat-obatan medis, maka perlu mengkonsumsi obat-obatan itu untuk sisa hidup. 
Apapun yang seorang wanita hamil makan atau minum dapat memberikan pengaruh pada janinnya. Seberapa banyak jumlah obat yang akan terpapar ke janin tergantung dari bagaimana obat tersebut diabsorpsi (diserap), volume distribusi, metabolisme, dan ekskresi (pengeluaran sisa obat). Penyerapan obat dapat melalui saluran cerna, saluran napas, kulit, atau melalui pembuluh darah (suntikan intravena). Kehamilan sendiri mengganggu penyerapan obat karena lebih lamanya pengisian lambung yang dikarenakan peningkatan hormon progesteron. Volume distribusi juga meningkat selama kehamilan, estrogen dan progesteron mengganggu aktivitas enzim dalm hati sehingga berpengaruh dalam metabolisme obat. Ekskresi oleh ginjal juga meningkat selama kehamilan.
Untuk mengetahui bagaimana mekanisme pengobatan hipertensi kehamilan maka perlu diketahui mekanisme pengobatan hipertensi secara umum, sebab pengobatan hipertensi secara umum tidak jauh beda dengan pengobata hipertensi pada kehamilan, tapi pada sbsorpsi obat dan dampak pengobatan dan hipertensi itu sendiri pada janinnya.
·         Methildopa
Sediaan                 : tablet
Mekanisme kerja : Methildopa mengalami dekarboksilasasi pada SSP menjadi α-Methilnoradrenaline, kemudian α-Methilnoradrenaline menstimulasi α2-adrenoseptor yang menyebabkan pengurangan denyut simpatetik  dan penurunan tekanan darah
Indikasi                : Hipertensi, bersama dengan diuretika, krisis hipertensi jika tidak diperlukan efek segera.
Kontraindikasi    : Depresi, penyakit hati aktif, serosis hati, kerusakan pembuluh darah otak
Efek samping       : mulut kering, depresi, pusing, peningkatan berat badan
Dosis                      : oral 125- 250mg /hari
(Info Obat Indonesia,434)
·          Hidralazin
Sediaan obat                   : Tablet
Mekanisme kerja            : merelaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi perifer menurun, meningkatkan denyut jantung.
Indikasi               : hipertensi, gagal jantung.
Kontraindikasi   : porfiria, takikardi parah, gagal jantung.
Efek samping                  : sakit kepala, takikardia, gangguan saluran cerna, muka merah, hipotensi,
Dosis                                : 50 mg / hr, dibagi 2 - 3 dosis.
o  HCT (Hydrochlorothiaside)
Sediaan obat            : Tablet
Mekanisme kerja     : mendeplesi (mengosongkan) penyimpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung dan tahanan vaskuler perifer menurun.
Efek samping           : gangguan metabolik,hiperglikemi,glikosuria, ketidakseimbangan elektrolit,pusing.
Indikasi                    : digunakan untuk terapi oedema yang berkaitan dengan gagal jantung, gangguan hati, gagal ginjal , hipertensi.
Kontraindikasi        : anuria, dekompensasi ginjal, penyakit hati parah, penyakit addison
Dosis                         : hipertensi awal 12,5mg; dapat ditingkatkan jika perlu menjadi sehari 25-25mg. Maks dalam sehari 100mg.
(Info Obat Indonesia, 439)














Bab III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sehingga tekanan sistolik > 140 mmHg dan tekanan diastolik > 90 mmHg. Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal.
Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1.      Pengobatan non obat (non farmakologis)
2.      Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis)
Hipertensi dapat dicegah dengan pengaturan pola makan yang baik dan aktivitas fisik yang cukup. Hindari kebiasaan lainnya seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol diduga berpengaruh dalam meningkatkan resiko Hipertensi walaupun mekanisme timbulnya belum diketahui pasti.
3.2 Saran
Saran penulis agar  makalah ini digunakan sebagai sarana untuk mendapatkan ilmu, terutama tentang obat antihipertensi.





Daftar Pustaka
Info Obat Indonesia. 2010. Edisi kedua. PT Eranti Agratama:Jakarta
Informasi Spesialite Obat Indonesia. 2007. Edisi 42. Edpigi:Surabaya
Farmakologi dan Terapi. 1999. Edisi ketujuh.Gaya Baru:Jakarta

Tidak ada komentar: