Gadis biasa yang berihtiar dan bertawakkal ngejalanin skenario Allah, entah akan menjadi apa dan seperti apa.
Karena apapun itu, pasti adalah yang terbaik. Dan tulisan dibawah ini hanya sampah pikiran saja. Ga lebih

Selasa, 18 Oktober 2016

Laki laki dari Seberang Pulau

Bertemu tanpa disengaja. Pun tanpa melalui janji. Mungkin takdir. Yah, karena izinNya lah kami bertemu.  

Berani mencintai, harus berani pula sakit hati. Nasehat ini yang sering saya dengar dari kawan ataupun orang tua. Resiko yang telah terpatri dan bahkan mungkin telah menjadi hukum alam. Air mata. Canda. Seakan-akan telah berkawan dengan baiknya. 

Hati ini tidak bisa memilih dengan siapa untuk memulai dan dengan siapa akan berlabuh. Saat ini bukan mencari, melainkan hanya bisa memperbaiki dan meningkatkan kualitas untuk memantaskan diri. Hingga saatnya tiba. 

Lelaki yang sempurna. Untuk apa ? Inginku hanya bersama dengan lelaki yang bisa menjadi lebih baik dengan adanya saya. Meski hanya dalam kesederhanaan. Mengusap keringatnya ketika ia lelah bekerja. Menghapus air matanya saat ia mulai putus asa. Sayalah yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun itu. Sampai ia benar benar mencapai semua cita dan inginnya. 

Jangan bermimpi ! Bangunlah ! Sudah saatnya mengejar asamu, mengejar inginmu. Lelah ? Tak apa sayang, mari bersama mempelajari dan mengalahkan dunia. Saling menggenggam, jangan terlalu erat hanya saling beriring. Ingatkan saat saya mulai lelah, kau pun begitu. Kita raih sukses bersama. Janji yang pernah terucap secara tersurat. Bersama. ❤